Budaya harus di lestarikan , bukan di binasakan !
Indonesia
di kenal sebagai negara yang kaya akan budaya dan kaya akan rempah-rempah. Dieng
merupakan satu areal tersakral di jawa tepatnya di daerah tengah-tengah
kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara. Merupakan dataran tinggi di Jawa Tengah
dengan ketinggian > 2000 m di atas permukaan laut. Dieng memiliki banyak
keunikan yang sampai sekarang masih memegang teguh pada tradisinya. Salah
satunya fenomena rambut gembel atau biasa
di sebut juga bocah sukerta adalah anak yang lahir dan di cadangkan sebagai
mangsa bhatarakala, agar terbebas harus di ruwat dengan cara mencukur rambut
gembelnya.
Ada
beberapa pendapat menyatakan bahwa asal mula rambut gembel atau bocah sukerta
berasal dari titipan Nyi Roro kidul yang terkenal dengan penguasa laut selatan,
kepercayaan ini di yakini sebagian masyarakat yang masih menganut kepercayaan
kejawen. Ada juga yang mengatakan bahwa anak rambut gembel tersebut titisan
dari Ki Ageng Kolo Dete ( pendiri datarang tinggi dieng ) yang konon berambut
gembel.
Fenomena
rambut gembel di dieng bukan di
sebabkan faktor gen, melainkan mereka terlahir normal dan tak ada yang bisa
memprediksi kapan dan anak siapa yang menjadi bocah sukerta. Sebelum rambut
berubah menjadi gembel, anak akan menderita demam tinggi disertai kejang-kejang
dan mengigau. Jika di lihat dari sisi medis, kejadian ini sulit di paparkan.
Anak rambut gembel lebih aktif dari pada anak normal, mayoritas lebih nakal,
keras kepala, sering menyendiri. Tidak selamanya rambut gembel menjadi mahkota
bagi bocah sukerta, Rambut gembel harus di potong tepatnya pada acara ruwatan.
Ada
beberapa syarat sebelum pemotongan rambut gembel, bocah sukerta meminta sendiri
tanpa bujukan seseorang kapan ingin di potong dan di sertai permintaan apa yang
dia inginkan dan harus segera di turuti. Jika tidak, rambut gembel yang telah
dipotong akan tumbuh kembali. Di dieng ritual ruwatan telah di lakukan secara
periodik dan turun-temurun, bahkan pemerintah kabupaten Wonosobo mengadakan
acara ruwatan sebagai acara rutin tiap tahun atau biasa disebut pekan budaya
dieng / DIENG FESTIVAL.
Tempat
yang harus di kunjungi sebelum pemotongan rambut gembel antara lain candi
dwarawati, komplek candi arjuna, candi gatot kaca, talaga balai kambang, candi
bima, kawah sikidang, tempat pertapaan mandalasari ( gua di telaga warna ),
kali pepek, dan tempat pemakaman dieng. Malam harinya, akan di laksanakan
upacara jamasan pusaka yakni pencucian pusaka yang di bawa saat kirab anak-anak
rambut gembel saat di cukur. Keesokan harinya di lakukan kirab menuju tempat
pencukuran, perjalanan di mulai dari rumah sesepuh pemangku adat dan berhenti
di dekat sendang sedayu. Setelah kirab selesai di lakukan, pemandian anak
rambut gembel di sumur sendang sedayu. Saat memasuki sumur sendang sedayu,
anak-anak rambut gembel di lindungi payung Robyong dan kain panjang di sekitar
sendang sedayu. Setelah selesai, anak rambut gembel tersebut di kawal menuju
tempat pencukuran.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar