Rabu, 25 Juli 2012

Bocah Sukerta


Budaya harus di lestarikan , bukan di binasakan !

                Indonesia di kenal sebagai negara yang kaya akan budaya dan kaya akan rempah-rempah. Dieng merupakan satu areal tersakral di jawa tepatnya di daerah tengah-tengah kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara. Merupakan dataran tinggi di Jawa Tengah dengan ketinggian > 2000 m di atas permukaan laut. Dieng memiliki banyak keunikan yang sampai sekarang masih memegang teguh pada tradisinya. Salah satunya fenomena rambut  gembel atau biasa di sebut juga bocah sukerta adalah anak yang lahir dan di cadangkan sebagai mangsa bhatarakala, agar terbebas harus di ruwat dengan cara mencukur rambut gembelnya.
            Ada beberapa pendapat menyatakan bahwa asal mula rambut gembel atau bocah sukerta berasal dari titipan Nyi Roro kidul yang terkenal dengan penguasa laut selatan, kepercayaan ini di yakini sebagian masyarakat yang masih menganut kepercayaan kejawen. Ada juga yang mengatakan bahwa anak rambut gembel tersebut titisan dari Ki Ageng Kolo Dete ( pendiri datarang tinggi dieng ) yang konon berambut gembel.
Fenomena  rambut  gembel di dieng bukan di sebabkan faktor gen, melainkan mereka terlahir normal dan tak ada yang bisa memprediksi kapan dan anak siapa yang menjadi bocah sukerta. Sebelum rambut berubah menjadi gembel, anak akan menderita demam tinggi disertai kejang-kejang dan mengigau. Jika di lihat dari sisi medis, kejadian ini sulit di paparkan. Anak rambut gembel lebih aktif dari pada anak normal, mayoritas lebih nakal, keras kepala, sering menyendiri. Tidak selamanya rambut gembel menjadi mahkota bagi bocah sukerta, Rambut gembel harus di potong tepatnya pada acara ruwatan.

            Ada beberapa syarat sebelum pemotongan rambut gembel, bocah sukerta meminta sendiri tanpa bujukan seseorang kapan ingin di potong dan di sertai permintaan apa yang dia inginkan dan harus segera di turuti. Jika tidak, rambut gembel yang telah dipotong akan tumbuh kembali. Di dieng ritual ruwatan telah di lakukan secara periodik dan turun-temurun, bahkan pemerintah kabupaten Wonosobo mengadakan acara ruwatan sebagai acara rutin tiap tahun atau biasa disebut pekan budaya dieng / DIENG FESTIVAL. 

            Tempat yang harus di kunjungi sebelum pemotongan rambut gembel antara lain candi dwarawati, komplek candi arjuna, candi gatot kaca, talaga balai kambang, candi bima, kawah sikidang, tempat pertapaan mandalasari ( gua di telaga warna ), kali pepek, dan tempat pemakaman dieng. Malam harinya, akan di laksanakan upacara jamasan pusaka yakni pencucian pusaka yang di bawa saat kirab anak-anak rambut gembel saat di cukur. Keesokan harinya di lakukan kirab menuju tempat pencukuran, perjalanan di mulai dari rumah sesepuh pemangku adat dan berhenti di dekat sendang sedayu. Setelah kirab selesai di lakukan, pemandian anak rambut gembel di sumur sendang sedayu. Saat memasuki sumur sendang sedayu, anak-anak rambut gembel di lindungi payung Robyong dan kain panjang di sekitar sendang sedayu. Setelah selesai, anak rambut gembel tersebut di kawal menuju tempat pencukuran.
           





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dongeng Sebelum Tidur #2

Ada secangkir teh dan setumpuk cerita yang belum juga habis terbaca,  keduanya tergesa-gesa dan tak sabar menunggu giliran untuk dicer...